Pertama, digambarkan sikap paling tepat menurut kehendak Allah bagi para orang tua dan seluruh anggota keluarga adalah menyerahkan anak dan orang yang dikasihinya kepada Tuhan. Belajar pada Hana, ia menyadari betul bahwa Samuel, yaitu anak yang dilahirkannya bukanlah miliknya. Samuel memang ia lahirkan, tetapi tetaplah milik Tuhan dan hanya karunia dari Allah. Bukankah Tuhan yang menciptakannya, yang menganugerahkannya, yang memberi roh kehidupan dan segalanya? Maka Tuhan Allah-lah yang paling berjasa, paling berhak dan paling tahu panggilan dan perutusan Samuel mengapa Samuel harus dilahirkan dan dibesarkan. Hana dan Elkana suaminya maklum dan tahu diri, maka diserahkannya Samuel kepada Tuhan: "Maka aku pun menyerahkannya kepada Tuhan; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada Tuhan." (1 Sam.1: 28), inilah sikap paling sesuai para orang tua: menyerahkan anak mereka kepada Tuhan. Sedangkan perhatian, tanggung jawab dan didikan orang tua tidak kemudian terbebas, melainkan tetap saja orang tua harus melakukannya. Seperti digambarkan(tersirat) melalui tindakan Hana: "Setiap tahun ibunya membuatkan dia jubah kecil dan membawa jubah itu kepadanya,...(1 Sam.2: 19). Kedua, kehendak Allah tidak selalu mudah dikenali dan dipahami. Ibu Maria dan bapak Yusuf-pun pernah salah sangka, pernah mengalami kesulitan memahami kehendak Tuhan. Ketika mereka menemukan kembali Yesus yang tertinggal di Yerusalem ibu Maria berkata: "Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami?"
Ternyata jawaban Yesus juga sulit dipahami, "Mengapa kamu mencari Aku?" Jawabab ini jelas aneh, karena Dia telah membikin pusing orang tua-Nya, tetapi ketika "ditegur" malah menjawab seperti itu! Banyak pertanyaan yang muncul, banyak keanehan yang terjadi pada diri Yesus Kristus anak mereka itu. Inilah dimensi susahnya memahami kehendak Allah dalam rumah tangga. Bukankah kita juga sering mengalami sulitnya memahami kehendak Allah dalam keluarga kita. Mengapa anak kita begini, mengapa harus begitu, kita sering bertanya: "Tuhan, mengapa ini semua terjadi? Apa kehendakMu?"
Ada pesan yang kuat yang ingin disampaikan kepada kita melalui dua perikop di atas, bahwa kehidupan keluarga dan komunitas kita mesti berpusatkan pada Tuhan Yesus Kristus sendiri. Ketika kita serius menempatkan Tuhan di pusat hidup keluarga kita, akan muncul banyak sekali tantangan dan hambatan, tetapi itu semua pasti teratasi. Percayakan semuanya kepada Tuhan, karena kita percaya bahwa Tuhan tahu apa yang Ia lakukan. Terpujilah Tuhan kita Yesus Kristus untuk selama-lamanya.
1 Samuel 2 : 18 – 28 ; Lukas 2 : 41 – 52
Sumber: Warta Gereja Edisi: Minggu, 30 Desember 2012
Add comment