
Istilah ini sering kita dengar dalam kultur masyarakat Jawa, “Njaga Praja” yang dalam terjemahan bebas artinya menjaga harga diri. Dalam kultur masyarakat Jawa nampaknya harga diri sesuatu yang sangat penting sehingga muncullah istilah demikian. Harga diri menjadi bagian proses perwujudan manusia sebagai seorang pribadi. Dengan harapan supaya pribadi tersebut menjadi bernilai dalam kehidupan bersama.
Kearifan lokal tersebut memang perlu untuk dilestarikan dan bahkan menjadi bagian hidup seseorang. Khususnya pada bagian menjadi bernilai dalam kehidupan bersama. Dimana keberadaannya senantiasa menjadi “milik” dari kehidupan bersama. Bahkan kehidupan bersama tidak rela “harta” nya hilang dari sebuah komunitas. Sehingga ada berbagai macam cara yang dilakukan oleh seseorang untuk “njaga praja”. Mulai dari cara berbusana, dengan berbagai macam aksesorisnya yang menunjukkan betapa bernilainya dia. Kemudian dengan menjaga intonasi bicara sehingga nampak seperti manusia bijaksana. Menjaga sikap dalam ruang umum (publik), misalnya cara duduk yang sudah diatur sedemikian rupa, dan juga cara makanpun menjadi tolok ukur dalam menjaga harga diri.
Berbicara mengenai menjadi pribadi yang bernilai, bacaan kita (Lukas 7: 1-10) memberikan kesaksiannya tentang seorang Perwira di Kapernaum. Menarik jika melihat permohonan yang diajukan oleh orang tua-tua Yahudi: “Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami”. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa perwira itu diakui bernilai dimata orang Yahudi. Nampaknya pengakuan tersebut tidak berdasarkan kedudukannya sebagai seorang perwira. Dimana seorang perwira pada saat itu membawahi 100 anggota pasukan. Setiap pasukan pasti akan tunduk kepadanya atau menurut dengan perintahnya (ayat 8).
Pastilah kesejahteraan hidupnya pun juga terjamin karena memiliki seorang hamba. Namun pengakuan tersebut berdasarkan pernyataan tua-tua Yahudi “ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami”. Umumnya, seorang perwira memanfaatkan wilayah jajahannya tersebut untuk keuntungannya. Namun perwira itu justru melakukan hal-hal yang tidak lazim pada jamannya dan kedudukannya. Dia tidak mengadakan permusuhan kepada orang Yahudi, tidak menggunakan kekuasaan supaya dianggap terhormat. Bahkan dalam ayat 6, dikatakan bahwa tua-tua Yahudi itu adalah sahabatnya. Relasi ini sangat menarik, dimana “orang luar/pewira” dianggap sebagai bagian dari “komunitas/Yahudi” karena bernilai dimata komunitas. Artinya dia berharga di dalam kehidupan bersama orang Yahudi.
Bahkan, Tuhan Yesus pun juga memberikan pengakuan-Nya kepada perwira tersebut “Aku berkata kepada mu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!!”. Bahwa Tuhan Yesus mengakui, jika perwira itu lebih bernilai daripada orang Israel. Pengakuan tersebut berdasarkan kata-kata yang diucapkan dan tindakan yang dilakukan oleh perwira itu. Yaitu ketika ia menyuruh tua-tua Yahudi untuk menemui Tuhan Yesus. Tindakan ini dilakukan karena dia tahu bahwa orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Romawi yang dianggap kafir. Dan orang Yahudi enggan untuk datang ke rumah orang kafir. Sehingga tua-tua tersebut menjadi perantara perwira itu dengan Tuhan Yesus. Dan pernyataan perwira itu “tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh”. Artinya dia menghargai keberadaan Tuhan Yesus sebagai orang Yahudi dan sebagai seorang yang berkuasa lebih dari dirinya.
Belajar dari apa yang dilakukan oleh perwira di Kapernaum tersebut, ternyata untuk menjadi pribadi yang bernilai atau “njaga praja” tidak hanya sekedar secara fisik. Sehingga dilihat kita memiliki kedudukan yang berarti di mata khalayak. Namun melalui kerendahan hati dan kasih yang dirasakan oleh banyak orang, dapat menjadikan kita benilai di mata mereka. Sehingga kita dapat mewujudkan diri sebagai pribadi yang memiliki “praja”. Tuhan memberkati.
Bacaan: Lukas 7: 1-10
Sumber: Warta Gereja Edisi: Minggu, 2 Juni 2013
Add comment