Tuhan mengutus kita ke dalam dunia
Bawa pelita kepada yang gelap
Meski dihina serta dilanda duka
Harus melayani dengan sepenuh
Ref. : Dengan senang, dengan senang
Marilah kita melayani umatNya
Dengan senang, dengan senang
Berarti kita memuliakan namaNya.
(Pelengkap Kidung Pujian / PKJ 185:1)
Manusia pada umumnya anti dengan yang namanya penderitaan. Seakan-akan penderitaan adalah hukuman Tuhan bagi manusia. Oleh karena itu tidak mengherankan, ketika seseorang tertimpa musibah, apapun penyebabnya, sering muncul pertanyaan: “… apa dosa yang telah dilakukan?” Kalau pertanyaan itu sampai di dengar oleh orang yang tertimpa musibah, pertanyaan ini justru akan menambah penderitaan orang yang sedang tertimpa musibah itu, serta iman orang itu juga bisa merosot.
Ketika Yesus memberitahukan penderitaan yang akan Dia alami, Petrus segera menarik Yesus. Petrus tidak menghendaki Yesus menderita. Petrus tidak tahu, bahwa penderitaan yang dialami Tuhan Yesus sesungguhnya adalah penderitaan yang tidak seharusnya Dia alami. Dengan penderitaanNya itu, Dia menggantikan posisi manusia yang seharusnya menanggung derita itu karena dosa-dosanya. Tuhan Yesus menanggung semua penderitaan itu dengan rela, tanpa berkeluh kesah.
Tuhan Yesus mau menggantikan posisi manusia. Melalui penderitaan yang Dia pikul itulah, umat manusia mengalami kebebasan dan penebusan.
Justru penderitaan itulah jalan yang dipilih dan dilalui Yesus, dalam menyelamatkan manusia dari dosa-dosanya. Sekalipun Dia memiliki kekuatan untuk menghindari penderitaan itu tetapi Dia tidak mau melakukannya, tetapi dengan setia-taat menghadapi itu sampai selesai. Sikap setia Tuhan Yesus membuahkan hasil yang luar biasa.
Belajar dari Abraham, yang menanti dengan setia-taat janji Tuhan yang sudah lama diberikan kepadanya, yaitu janji yang menyangkut masa depan, yakni keturunan Abraham. Adalah pergumulan yang sangat berat. Tetapi Abraham dengan setia mau menanti dan percaya, bahwa Tuhan akan menggenapi janjiNya. (Roma 4:20-21). Akhirnya dengan kesetiaannya itulah, Abraham menyaksikan janji Allah itu terjadi dalam hidupnya. Janji Allah kepada Abraham tidak pernah meleset. Yang dituntut Allah atas diri Abraham adalah sikap aktif Abraham, sikap mau percaya dan setia melakukan kehendak Tuhan.
Selaku orang percaya, kita harus tetap menyadari bahwa dalam hidup ini, kita tidak akan sama sekali bebas dari penderitaan. Bahkan sekalipun kita rajin melakukan pelayanan, kerajinan kita dalam berpelayanan itupun tidak menjamin kita bebas dari penderitaan. Penderitaan bisa menimpa siapa saja, tanpa pandang bulu.
Maka dalam masa Pra Paskah kedua ini, kita dipanggil untuk semakin sadar, bahwa Dia tidak pernah meninggalkan kita. Sebab Dia telah rela menderita bagi kita. Kitapun harus rela menerima penderitaan kalau itu terjadi bukan karena kesalahan atau kejahatan kita, sambil tetap menjaga diri agar tidak berbuat jahat, dan mempercayakan hidup kita kepada penyertaan dan janji pertolongan Tuhan. (lihat 1 Pet. 2:19-21). Tuhan Memberkati – Immanuel.
Bacaan I : Kej. 17 : 1 – 7; 15-16
Tanggapan: Mazmur 22: 23 – 31
Bacaan II: Roma 4 : 13 – 25
Bacaan III : Markus 8 : 31 – 38
Sumber: Warta Gereja Edisi: Minggu, 4 Maret 2012
Add comment