
Setiap saat ada kejuaraan sepakbola, khususnya World Cup, mata dunia menantikan dengan harap-harap cemas siapa yang akan menjadi pemenang. Tentu saja pemenang akan menyambut kemenangan dengan gembira bahkan orang-orang dinegerinya pun akan bersorak penuh gegap gempita. Ketika pemenang tiba dinegerinya dengan membawa piala kemenangan, perarakan dan penyambutan besar-besaran akan diselenggarakan. Seakan seluruh rakyat tumpah ruah menyambut pemenang dengan penuh kegembiraan. Penyambutan kepada pemenang itu tentu semakin membesarkan semangat bagi para pemain bahkan meningkatkan kebanggaan bangsa atas prestasi yang diraih oleh team yang telah bertanding dengan sekuat tenaga.
Dimana-mana yang namanya penyambutan memang memberi dampak yang sangat besar kepada yang disambut. Rasa-rasanya hati kita senang ketika memasuki lingkungan baru disambut dengan senyum. Rasa-rasanya hati kita merasa nyaman, setelah bepergian dari tempat jauh kita disambut oleh keluarga dengan hati yang penuh kerinduan. Rasa-rasanya hati kita lega, ketika ditengah kesalahan, kegagalan kita masih disambut dengan hati dan tangan yang penuh pengampunan dan cinta.
Ketika seseorang disambut, penyambutan itu meneguhkan bahwa dia diterima. Penyambutan juga membuat orang merasa bahwa ia tidak sendiri. Penyambutan membuat orang merasa bahwa dia berarti atau bernilai bagi pihak lain. Bukankah itu yang dinyatakan Allah untuk kita. Karya penyelamatan Allah dalam diri Tuhan Yesus membuktikan bahwa Dia berkenan untuk menyambut kita, meskipun harus kita akui bahwa ada banyak kesalahan, dosa, kegagalan kita dalam kita menjalani hidup sesuai dengan kehendakNya.
Namun demikian Dia berkenan untuk menyambut kita sebagaimana kita adanya. Kita yang tidak layak, dibuatNya menjadi layak. Dia membuat kita berarti. Dia menyambut kita semua apapun keberadaan kita baik itu tua- muda, miskin – kaya, laki-laki – perempuan, apapun suku, latar belakang pendidikan, status sosial, ekonomi dan lain-lain.
Sebagaimana Tuhan telah menerima kita, Tuhan juga memanggil kita untuk menyambut sesama kita. Dengan jelas dari Matius 10 : 42 mengatakan :"Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia muridKu, aku berkata kepadamu : Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya." Panggilan ini jelas, bahwa Tuhan menghendaki kita untuk menerima sesama kita, bahkan mereka yang terkecil, terlemah, terpinggirkan, terabaikan, termarginalkan, terlupakan.
Bentuk penerima kepada sesama kita harus nampak dengan kesediaan kita untuk menolong, menopang, memberi bantuan sekecil apapun bentuknya. Karena menerima sesama dengan tulus, sama maknanya dengan menerima kehadiran Tuhan. Dan lebih dari itu, Tuhan telah siapapun upah bagi orang yang menyambut, menerima sesama dengan tulus hati. Mari kita sambut suami, istri, anak, orang tua, sahabat, tetangga, teman kerja dan sesama kita dengan hati terbuka. Amin.
Bacaan I : Yeremia 28: 5-9
Tanggapan: Mazmur 89: 1-4, 15-18
Bacaan II: Roma 6: 12 – 23
Bacaan III : Matius 10:40–42
Sumber: Warta Gereja Edisi : Minggu, 26 Juni 2011
Add comment