
Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus.
Minggu-minggu ini bersama dengan seluruh masyarakat yang mayoritas beragama Muslim merasakan suasana hari raya Idul Fitri. Sebagaimana telah menjadi tradisi masyarakat yang sudah berlangsung dari waktu ke waktu, setiap lebaran tiba, mudik merupakan hal yang tidak dapat ditinggalkan. Menjelang orang mudik banyak stasiun televisi menayangkan berbagai persiapan yang dilakukan oleh baik pemerintah, perusahaan-perusahaan maupun pribadi untuk membantu proses mudik. Tiket pesawat, kereta api, kapal laut travel, bis, dll telah dipesan jauh hari sebelumnya. Tips-tips mudik yang nyaman dan aman diberikan. Jalur-jalur perjalanan diinformasikan, pernak-pernik mudik diingatkan. Semuanya itu dilakukan supaya setiap orang yang akan mudik mempersiapkan semua hal dengan sebaik-baiknya. Ketika acara Idul Fitri dan acara kekeluargaan di kampung halaman telah usai, kembali mereka bersiap untuk balik kembali ke tempat kerja masing-masing. Persiapan yang baik memang dibutuhkan supaya rencana dapat berjalan dengan baik.
Hidup ini memang membutuhkan persiapan bahkan kita dipanggil untuk senantiasa bersiap. Panggilan untuk bersiap ini juga yang dinyatakan dalam kitab Lukas 12: 32 – 40 yang menasehatkan kepada hamba untuk senantiasa bersiap. Sepertinya hamba ini sedang ditinggal oleh tuannya pergi ke pesta perkawinan hanya saja hamba ini tidak tahu persis kapan tuan akan pulang. Sebagai seorang hamba yang ditinggal oleh tuannya memang ada kemungkinan dia melalaikan tugasnya karena toh memang tidak ada yang mengawasi. Kecenderungan seperti ini juga bisa menimpa siapapun juga termasuk kita. Bukankah dalam kehidupan sehari-hari tak jarang semangat kerja kita menurun ketika tidak ada atasan yang mengawasi. Bahkan keadaan seperti ini menjadi kesempatan untuk melakukan kegiatan lain menurut keinginan kita, termasuk bolos atau pulang rumah lebih awal.
Namun dalam bacaan ini, hamba tadi diingatkan untuk tetap bersiap. Hal ini nampak dari ungkapan, “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala” (ayat 35). Ungkapan ini didasarkan pada kebiasaan hamba pada saat itu yang biasa memakai pakaian panjang sampai tumit. Pakaian panjang seperti itu seringkali justru membuat hamba tidak bisa bekerja dengan leluasa karena ribet. Karenanya agar pekerjaan dapat berjalan dengan lancar, hamba tersebut harus mengikat pinggangnya. Di samping itu pelita harus tetap menyala, artinya harus dalam keadaan waspada supaya kalau sewaktu-waktu tuannya datang entah itu tengah malam, entah itu dini hari hamba itu kedapatan siap untuk menyambut tuannya.
Sebagaimana hamba yang dipanggil untuk bersiap, kita pun juga harus selalu bersiap karena hidup adalah proses bersiap. Ada banyak hal harus kita siapkan. Kita perlu bersiap untuk masa depan kita, kita perlu bersiap untuk study anak-anak kita, kita perlu juga bersiap untuk menyambut kedatangan Tuhan. Hanya persoalannya apa yang harus kita lakukan dalam masa persiapan ini? Dari bacaan Yesaya 1: 16 b dan 17a kita diingatkan untuk bersiap dengan berhenti berbuat jahat dan berusaha untuk berbuat baik. Dari Kitab Mazmur 50: 23 b dan c pemazmur mengingatkan dengan bersikap jujur karena orang yang jalannya jujur, keselamatan yang dari Allah akan diperlihatkan Tuhan kepadanya.
Sedangkan dari Kitab Ibrani 11: 1 -3, 8 – 16, penulis Ibrani memberi kesaksikan tentang pengalaman iman dari tokoh-tokoh alkitab dalam perjanjian lama. Iman yang terus menyala dalam hidup mereka yang memungkinkan mereka menjalani kehidupan ditengah tantangan hidup. Untuk itu, marilah kita mengisi hidup kita dengan bersiap menyambut Tuhan dengan menjaga iman kita terus menyala dan semakin menyala, kita tidak akan membiarkan iman kita padam. Di samping itu marilah kita menjalani masa penantian dengan terus berbuat baik dan menghentikan segala bentuk kejahatan maupun berjuang untuk hidup dalam kejujuran. Amin
Bacaan I: Yesaya 1: 1, 10-20;
Tanggapan: Mazmur 50: 1 – 8, 22-23
Bacaan II: Ibrani 11: 1- 3, 8 – 16;
Bacaan Injil: Lukas 12: 32 - 40
Sumber: Warta Gereja Edisi: Minggu, 11 Agustus 2013
Add comment