
Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus.
Kalau kita perhatikan pada saat ini, baik melalui tulisan di media cetak, maupun media Elektronik, berbagai macam kejahatan telah terjadi di Negara kita, bahkan di lingkungan dimana kita hidup bermasyarakat. Korupsi masih merajalela, pertengkaran antar saudara, mutilasi yang dilakukan terhadap anggota keluarga sendiri, penjualan manusia dan bentuk-bentuk kejahatan lainnya adalah cerminan masyarakat yang kurang mampu mengendalikan diri. Bukankah hal itu menunjukkan bahwa masyarakat saat ini mengalami krisis kepekaan terhadap sesama. Minimnya self control menjadikan seseorang bertindak berdasarkan keinginan diri dan tidak diimbangi dengan akal sehat serta hati nurani. Orang akan memakai segala cara untuk memperoleh apa yang diinginkannya, tanpa memperhitungkan nilai-nilai kemanusiaan lagi.
Bacaan Leksionari kita pada minggu ini, mengajak kita sebagai anak-anak Tuhan, untuk peduli terhadap sesama. Bagian terpenting itu disampaikan melalui jawaban Yesus dan perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh. Hal penting itu adalah perlunya kewaspadaan terhadap bahaya ketamakan. Perkara dua bersaudara ditulis dalam injil Lukas 12 (ay.15 "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu"). Keinginan yang tak terkendalikan akan melahirkan sikap egois dan mematikan kepekaan terhadap orang lain. Orang mengumpulkan harta bagi diri sendiri, lupa pada orang lain. Orang yang tamak akan menganggap 'harta dunia' sebagai prioritas tertinggi dalam hidup. Sehingga mengukur kebahagiaan dan keselamatan dari seberapa banyak 'harta dunia' yang berhasil ia kumpulkan. Semakin banyak terkumpul, semakin ia merasa aman dengan kehidupannya. Ketamakan menjadikan seseorang melupakan hal-hal yang sesungguhnya jauh lebih penting, yaitu kehidupan rohani, relasinya bersama Tuhan dan sesama. Pada akhirnya, ketamakan justru membawa seseorang pada kehancuran.
Surat Kolose meluruskan pengajaran yang beredar di kalangan jemaat bahwa, Manusia baru adalah manusia yang mematikan segala sesuatu yang duniawi: percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat. Orang yang telah menerima Kristus, telah mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbaharui (ay.10). Frasa 'terus menerus' menunjukkan sebuah aktivitas yang berkesinambungan. Bahwa meskipun sudah menjadi 'manusia baru', namun bisa jadi suatu ketika ia jatuh dalam kehidupan 'manusia lama'. Karena itu, pembaharuan hidup sebagai manusia baru harus dilakukan terus menerus.
Mazmur 107 mengajak umat untuk senantiasa memiliki rasa syukur kepada Tuhan. Orang yang berhikmat adalah orang yang mampu menemukan kebaikan, kesetiaan dan kemurahan Tuhan dalam hidupnya. Dengan hikmat itulah, ia akan menjalani hidup dengan penuh ungkapan syukur. Sebaliknya, ketamakan adalah ancaman yang menghancurkan hidup seseorang (Lukas 12:13-21). Seperti Bangsa Israel yang selalu mengeluh dan tidak puas dengan kebaikan Tuhan. Mereka membalas cinta Tuhan dengan pengkhianatan. Namun,karena begitu besar cinta Tuhan, sehingga Ia tidak selama-lamanya menghukum orang yang berdosa. Selalu ada pengampunan dan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan (Hosea 11:1-11).
Perjalanan sejarah Bangsa Israel menunjukkan betapa manusia sangat mudah untuk mengambil pilihan yang salah dalam hidup. Mereka sulit belajar dari sejarah bangsa di masa lampau. Penghukuman yang Tuhan berikan kepada Bangsa Israel akibat penyembahan berhala, ternyata tidak membuat mereka jera. Bangsa Israel hidup sebagai bangsa yang bebal, semakin Tuhan memanggil mereka, semakin mereka pergi menjauh dari Tuhan dan mendekat kepada para baal dengan membawa persembahan. Pikiran mereka telah dibutakan oleh pilihan mereka sendiri, sehingga mereka tidak mampu melihat kebenaran. Bahwa Tuhanlah yang mengeluarkan mereka dari tanah mesir, bukan para Baal. Bahwa Tuhan pula yang memberikan mereka makanan, bukan baal sesembahan mereka. Inilah yang membuat mereka tidak mampu mensyukuri hidup sehingga selalu merasa tidak puas dengan apa yang mereka peroleh dari Tuhan.
"Asa cukup bersaing dengan keinginan untuk memiliki lebih banyak. Sebab, dengan ukuran yang dipakai, maka manusia berpikir lebih banyak memiliki, berarti lebih bahagia. Itulah yang terjadi pada seseorang. dalam Lukas 12:13-21. Perkara dua bersaudara dalam perikop ini terjadi karena keduanya ingin memiliki harta lebih banyak. Yesus mengingatkan kepada orang banyak untuk waspada terhadap ketamakan. Tamak adalah keinginan untuk terus-menerus memiliki lebih banyak untuk dirinya sendiri. Sifat tamak melahirkan sikap hidup yang egois dan mematikan belas kasih terhadap orang lain. Peringatan Yesus ini bukan berarti kita tidak boleh memiliki target dalam hidup dan kerja. Pekerjaan kita adalah sarana Tuhan memelihara hidup kita. Namun, kita pun harus mampu mengendalikan diri. Apa yang sudah kita peroleh dari Tuhan hendaknya disertai dengan pengakuan bahwa semua keberhasilan datangnya dari Tuhan. Keberhasilan disertai dengan ungkapan syukur dan berbagi.
Kesetiaan, kebaikan dan kemurahan Tuhan sesungguhnya tak mampu kita hitung. Berapa kali kita mendukakan hati Tuhan, melalui sikap, tutur kata, dan pikiran kita, baik yang kita sengaja maupun tidak kita sengaja. Namun, atas segala kesalahan kita itu, Tuhan tetap memberi kesempatan kepada kita untuk mengawali hari yang baru, supaya kita dapat memperbaiki kesalahan dan menampilkan hidup baru yang layak disebut sebagai manusia baru. Belajar bersyukur! Itulah yang harus kita lakukan. Mensyukuri segala pemberian Tuhan. Bahwa Ia akan memberikan 'cukup' bagi kita. Ungkapkan syukur dengan sukacita berbagi dengan sesama. Karena kita dipanggil untuk menjadi pengikut Kristus yang solider, peduli dan berbelas kasih pada sesama. Amin
Bacaan I: Hosea 11:1-11;
Tanggapan: Mazmur 107:1-9,43
Bacaan II: Kolose 3:1-11;
Bacaan III: Injil Lukas 12:13-21
Sumber: Warta Gereja Edisi: Minggu, 4 Agustus 2013
Add comment