
Hari ini kita sudah memasuki minggu Adven ke 4, tinggal beberapa hari ini kita merayakan sukacita kelahiran Tuhan Yesus dalam perayaan Natal. Sudah banyak persiapan sudah dilakukan oleh orang percaya untuk merayakan Natal. Bahkan perayaan natal sudah digelar sejak Minggu I bulan Desember.
Memang semestinya kita pantas bergembira dalam menyambut dan merayakan kedatangan Tuhan Yesus. Bukankah melalui kedatanganNya memberi pengharapan kepada dunia dan kita. Dia datang untuk menyelamatkan dunia. Dia yang penuh kemuliaan berkenan untuk datang di dunia, lahir di kandang yang hina dan melalui orang-orang yang sangat sederhana. Bukankah itu yang dapat kita petik dari kisah perjumpaan Maria dan Elizabeth.
Maria dan Elizabeth bukanlah perempuan istimewa pada jamannya. Mereka bukanlah anak raja atau keturunan penguasa. Namun Allah justru memakai mereka untuk menyatakan karyaNya. Padahal kalau kita lihat dalam konteks masyarakat saat itu, baik itu Maria maupun Elizabeth sedang mengalami saat yang berat.
Mereka menghadapi cibiran dari masyarakat karena kondisi mereka. Bagi Maria, bukanlah hal yang murah untuk mengalami proses mengandung bayi Tuhan Yesus disaat dia masih bertunangan dengan Yusuf. Dia membutuhkan kerelaan dan dan keberanian untuk menjalaninya. Sedangkan Elizabeth, dia sudah mengalami penderitaan yang cukup lama karena sampai pada masa tuanya dia tidak melahirkan anak.
Bagi masyarakat patriarki, kalau ada perempuan tidak dapat melahirkan anak, kesalahan seringkali dilimpahkan kepada perempuan. Padahal ada atau tidak adanya anak itu sangat ditentukan oleh kemurahan Tuhan. Elizabeth yang sudah dianggap mandul harus menanggung beban cercaan dari orang sekelilingnya. Namun justru para perempuan yang seringkali diabaikan ini yang dipakai Tuhan
untuk menyatakan kemuliaanNya.
Dia memakan Elizabeth bagi kelahiran Yohanes yang akan menyiapkan jalan bagi kelahiran Tuhan Yesus. Dia juga memakai Maria baik kelahiran Tuhan Yesus.
Dalam bacaan Injil hari ini, kita dapat turut merasakan kebahagian Maria dan Elizabeth atas anugerah yang dilimpahkan Tuhan kepada mereka. Dalam kegembiraan Maria mengunjungi Elizabeth untuk berbagi kebahagiaan kepada Elizabeth. Dalam sukacita yang meluap, Elizabeth menyambut Maria bahkan Elizabeth mengungkapkan bahwa Maria adalah seorang perempuan yang diberkati di antara para perempuan.
Melalui bacaan kita saat ini, bukankah Tuhan mengingatkan kepada kita bahwa natal adalah peristiwa ketika Dia menyapa semua manusia termasuk mereka yang sering dipinggirkan. Bahkan bagi Tuhan siapapun layak untuk menjadi sarana menyatakan karyaNya. Semua orang berharga. Hal ini tentu mengingatkan kita agar dalam merayakan natal kita mengingat kepada mereka yang lemah, mereka yang disisihkan.
Natal juga menjadi peristiwa yang memberi harapan kepada kita, bahwa setiap kita juga dipakai Allah untuk menyatakan karya kemuliaanNya. Yang Allah kehendaki ada kesediaan hati dan kerelaan hati untuk dipakainya sebagaimana yang dilakukan oleh Maria dan Elizabeth. Selamat menyambut Natal.
Bacaan:
Mikha 5: 1-4a;
Lukas 1: 46-56;
Ibrani 10:5-10;
Lukas 1: 39-45
Sumber: Warta Gereja Edisi: Minggu, 20 Desember 2015
Add comment