
Lebih dari dua pekan sudah kenangan pahit yang dialami umat Kristiani terlewati. Namun kenangan tersebut masih membekas dengan jelasnya bagi saudara-saudara kita yang mengalami musibah bom bunuh diri di GBIS Kepunton. Peristiwa dua pekan silam lebih masih menyisakan luka batin maupun fisik dan rasa trauma yang mendalam bagi para korban bom bunuh diri. Peristiwa di GBIS Kepunton agaknya mengingatkan kembali peristiwa mencekam yang beberapa kali terjadi dalam kehidupan kekristenan di Indonesia pada rentang waktu 10 tahun terakhir ini.
Pada tahun 2001 ada bom yang meledak di Gereja Santa dan Gereja HKBP di Bekasi, meskipun pada tahun 2000 terjadi bombardir ke beberapa gereja di Indonesia. Kemudian pada tahun 2004 terjadi ledakan bom di Gereja Imannuel, Palu. Yang sebelumnya pada tahun 2002 saat tahun baru di daerah tersebut juga pernah mengalami peristiwa ledakan bom di beberapa gereja. Inilah wajah kehidupan umat kristen di Indonesia yang rentan dengan kekerasan atas nama agama. Tentunya dalam menghadapi keadaan yang demikian umat Kristiani tidak hanya tinggal diam pasrah menerima keadaan yang ada. Namun tindakan atau aksi apa dan bagaimana yang harus dilakukan oleh umat Kristiani dalam menghadapi keadaan yang demikian??
Ketika Tuhan Yesus dicobai oleh orang-orang Farisi (Matius 22:15-22) dengan bertanya tentang membayar pajak kepada Kaisar "Apakah diperbolehkan membayar kepada Kaisar atau tidak?", Tuhan Yesus memberikan komentar kepada mereka "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah". Pertanyaan dari orang-orang Farisi ini ingin mengetahui aksi Tuhan Yesus terhadap keadaan orang-orang Yahudi yang ditindas oleh pemerintahan Romawi yang direpresentasikan oleh Kaisar. Mereka menginginkan sikap perlawanan yang diberikan oleh Tuhan Yesus untuk membangkang kepada Kaisar dengan tidak membayar pajak kepada Kaisar, sehingga memunculkan gerakan pemberontakan orang-orang Yahudi yang dipimpin oleh Tuhan Yesus. Namun jawaban Tuhan Yesus justru sebaliknya, bukan karena Dia tidak berani kepada Kaisar dan mengalah dalam kondisi yang demikian, namun justru tindakannya memberikan penyadaran gerakan nirkekerasan yang menjadi landasan kehidupan religius.
Kehidupan beragama bukan sebagai wadah penggalangan massa yang dapat bertindak dengan kekerasan ketika terjadi perbedaan. Tuhan Yesus mengajarkan para pengikut-Nya untuk melakukan perlawanan dengan aksi damai, yaitu dengan membayar pajak kepada Kaisar. Sehingga dengan aksi damai orang-orang yang menjadi subyek perlawanannya menjadi sadar akan tindakannya dan memotong mata rantai kekerasan. Namun sayang ternyata ada umat Kristiani yang terpancing ketika mengalami penindasan dengan menunjukkan aksi tandingan yang dilakukan dengan kekerasan seperti yang terjadi di Mesir beberapa waktu lalu. Kita semua dapat melihat apakah tindakan tersebut dapat meminimalisir tindak kekerasan yang diterima oleh orang-orang Kristen Koptik Mesir?? Tidak!!! Justru aksi mereka diredam dengan kendaraan lapis baja dan desingan peluru dari pemerintah.
Melakukan aksi perlawanan dengan damai dan berlandaskan kasih bukan karena tidak berani dan mengalah tetapi supaya orang-orang yang melakukan tindak kekerasan dapat merasakan kasih dan melakukan tindakan yang membawa kedamaian. Akhirnya jalan yang ditempuh bukan untuk mengakhiri orang tersebut (membunuh), namun mengakhiri tindakan orang tersebut (penyadaran). Dengan demikian, seperti nasehat Rasul Paulus Tesalonika 1:1-10, kita melakukan pekerjaan iman kita dalam tindakan kasih dan tekun dalam pengharapan kepada Tuhan kita Yesus Kristus untuk menantikan kedatangan-Nya dari sorga, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang. Mari kita tunjukkan aksi kita. Tuhan memberkati.
Sumber: Warta Gereja Edisi : Minggu, 16 Oktober 2011
Add comment