
Judul renungan warta gereja Minggu ini, "Yesus Cinta Segala Bangsa", asyik tetapi juga tidak asyik. Jika dibaca oleh orang-orang atau bangsa-bangsa yang belum mengenal dan percaya kepada Yesus, maka diharapkan agar mereka tertarik dan menerima Yesus yang mencintai mereka. Hal tersebut, tentu, mengasyikkan bagi kita yang sudah mengenal dan percaya kepada Yesus karena bertambahnya anggota komunitas. Tambah bala. Tidak mengasyikkan bila kita menyaksikan orang yang mencintai kita, ternyata juga mencintai orang yang memusuhi kita, membenci kita, dan yang kita musuhi (paling tidak, tidak kita senangi).
Bukankah terkadang kita ingin supaya orang yang kita musuhi juga dimusuhi oleh Tuhan? Bukankah terkadang kita ingin supaya orang yang kita benci juga dibenci oleh Tuhan? Anders Behring Breivik, pelaku peledakan bom dan penembakan di Oslo, Norwegia, membenci orang-orang yang tidak mengenal dan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, juga tidak senang dengan orang-orang Kristen yang menerima dan bergaul dengan orang-orang yang memeluk agama non-Kristen. Syukur kalau tidak begitu.
Mengasyikkan ataupun tidak, pada kenyataannya adalah bahwa Tuhan Yesus Kristus, memang, mencintai segala bangsa. Ia tidak hanya mencintai bangsa Yahudi, umat pilihan Allah. Tuhan Yesus juga mencintai bangsa Arab yang orang-orangnya beberapa kali memperkosa dan menindas TKI; mencintai bangsa Malaysia yang beberapa kali menginjak-injak martabat bangsa Indonesia; mencintai bangsa Jepang dan Belanda yang pernah menjarah kekayaan bangsa Indonesia. Tuhan Yesus tidak hanya mencintai orang-orang Kristen yang percaya kepada-Nya. Ia pun mencintai orang-orang yang beragama lain yang beberapa kali membenci, membunuh, menindas dan menganiaya orang Kristen; mencintai orang-orang yang tidak peduli terhadap pewartaan kabar keselamatan yang kita bawa. Tuhan Yesus Kristus sangat mengasihi semua bangsa (Yohanes 3:16).
Wujud nyata cinta Tuhan itu antara lain dengan menerima perempuan Kanaan dan memberi kesembuhan kepada anak perempuan itu, meskipun menurut tradisi orang Yahudi, sebenarnya Tuhan Yesus yang adalah orang Yahudi tidak layak merima dan menolong perempuan itu (Mat 15:21-28). Wujud cinta Tuhan adalah dengan menunjukkan kemurahan kepada orang-orang Kristen di Roma yang taat dan kepada orang-orang Israel yang tidak taat (Rm 11:29-32). Wujud cinta Tuhan juga dinyatakan dalam penghiburan-Nya kepada bangsa-bangsa asing yang bukan umat Allah, yaitu dengan janji-Nya untuk membawa mereka ke gunung-Nya yang kudus dan memberi kesukaan kepada mereka di rumah Doa-Nya (Yes 56:3, 6-8). Wujud cinta Tuhan yang lain dapat disaksikan di tengah-tengah kehidupan bangsa Indonesia, yaitu dengan menganugerahkan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia. Wujud cinta Tuhan dapat dilihat dalam kehidupan gereja, yaitu melalui penyertaan dan pemeliharaan-Nya.
Berulang kali, penulis Mazmur 67 menyerukan kepada bangsa-bangsa supaya bersyukur kepada Tuhan (Mzm 67:4-6). Apakah alasannya bersyukur? Karena Tuhan mencintai kita, mencintai segala bangsa, menyinari kita dengan kasih-Nya, memberkati kita, memelihara kita siang dan malam dan menunjukkan kemurahan-Nya kepada orang yang taat dan yang tidak taat (Mzm 56:2, 7,8; Rm 11:29-32). Seruan tersebut juga ditujukan kepada kita, seluruh warga GKJ Manahan dan simpatisan.
Ungkapan syukur kita kepada Tuhan Yesus ditunjukkan melalui ketaatan kita kepada kehendak-Nya. Kehendak Tuhan yang utama adalah supaya kita mencintai Allah dan sesama manusia. Dengan demikian bukankah berarti kita harus bersukacita menyaksikan Tuhan mencintai segala bangsa, mencintai semua orang. Termasuk bangsa-bangsa yang mungkin kita benci. Bukankah berarti kita harus bersukacita menyaksikan Tuhan mencintai orang-orang yang kita musuhi dan kita benci? Lebih dari pada itu, kita juga harus mencitai segala bangsa dan mencintai semua orang yang membenci dan memusuhi kita. Marilah kita bersyukur kepada Tuhan dengan mencintai sesama karena Tuhan Yesus mencintai segala bangsa. Amin.
Bacaan I : Yesaya 56: 1, 6–8
Tanggapan: Mazmur 67
Bacaan II:Roma11:1-2a,29-32
Bacaan III : Matius 15: 21 – 28
Sumber: Warta Gereja Edisi : Minggu, 14 Agustus 2011
Add comment