
Sampai hari ini masih banyak orang yang meragukan kebangkitan-Nya, tentang kubur kosong, tentang "batu yang sudah terguling dari kubur" dan sensasi lainnya. Kalau diantara kita pernah melihat Yesus "menampakkan diri", itu mungkin halusinasi? Atau mungkin Yesus tidak mati beneran? Seolah-olah bangkit? Terus siapa yang disalib?
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus,
Masalah para murid, atau kita, sekarang percaya bahwa yang disalib, mati dan dikuburkan "didalam bukit batu", kemudian bangkit pada hari ke-3, benar Sang Kristus, itu baik, namun percaya kepada "Yesus yang bangkit, Yesus yang disalibkan", dan bersedia mempercayakan diri kepada-Nya, adalah hal yang berbeda.
Banyak orang percaya kepada Tuhan yang Maha Kuasa (iblis pun percaya/mat 4:1-11), itulah Yesus yang bangkit dan disalibkan, namun tidak atau belum mau menyerahkan hidup, berserah kepada jalan Tuhan Yesus Kristus sepenuhnya, kepada kehendak Tuhan Yesus Kristus. God’s calling.
Kita sering, malah selalu, berusaha menjalani kehidupan kita sendiri, dengan semboyan tanggungjawab, penguasaan diri, dan sikap mengandalkan diri sendiri secara berlebihan. Memang bertanggungjawab dalam kehidupan pribadi memang baik. Tetapi disaat kita mempercayai "diri kita" lebih ketimbang mempercayai Allah, itu adalah kesombongan diri yang fatal, kebanggaan yang salah !
Hal Ini sering terjadi ketika segala sesuatu berjalan sangat baik dalam hidup kita, kita menjadi yakin, bahwa kitalah yang mengendalikan dunia kita sendiri. Sebaliknya, adalah keputusasa-an, yang datang dengan sendirinya didalam hati kita, sewaktu menghadapi kesulitan yang tak terhindarkan, kegagalan, sakit penyakit, konflik relasi, kesulitan finansial dan lain-lain.
Inilah bahaya krisis kepercayaan, kesombongan ego dan keputus-asaan diri.
Bapak,Ibu,Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus,
Ayat 29 :" kata Yesus kepadanya : Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya. Persoalan dalam hidup ini bukan terletak pada "melihat"(secara jasmani), namun yang terpenting adalah "percaya" kepada Tuhan Yesus. Setiap hari, belajarlah percaya, syukur bagi yang sudah melakukan percaya, mempercayai Tuhan Yesus dengan segenap hati, dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi –sekaligus mengakui bahwa Dia lah satu-satunya sumber dari semua anugerah kebaikan dan keberhasilan, serta satu-satunya tempat berlindung yang aman, ketika hidup menjadi sukar- ini akan menjauhkan kita dari bahaya kesombongan dan keputusasaan,
Bagaimana kehidupan Bapak, Ibu dan Saudaraku terkasih?
Semoga damai sejahtera dari Tuhan Yesus, menyertai iman percaya kita, Amin.
Bacaan: Yohanes 20:19 – 31
Sumber: Warta Gereja Edisi: Minggu, 7 April 2013
Add comment